• header

Pengumuman hasil seleksi PPDB Tahun 2018 dapat dilihat di Harian Gorontalo Post Terbitan 21 Mei 2018. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


MTs Negeri 1 Kota Gorontalo

NPSN : 60725187

Jl.Poigar Kel.Molosipat U Kec.Sipatana Kota Gorontalo


mtsnkota.gorontalo@gmail.com

TLP : -


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana menurut anda tampilan website MTs Negeri Gorontalo ini?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 199466
Pengunjung : 47735
Hari ini : 22
Hits hari ini : 30
Member Online : 0
IP : 54.81.197.24
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

TEBARKAN KEDAMAIAN




...

 

(Refleksi Peringatan Hari Amal Bakti Kemenag RI Ke 72)

Oleh : Karjianto, S.Pd.I, M.Pd.
(Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih Pada MAN 2 Kabupaten Gorontalo)

"Indonesia Bukan Negara Agama Tetapi Negara Beragama Ada 6 Agama yang diakui di Indonesia, Jadi Hargailah 5 agama lainnya" KH. Abdurrahman Wahid.
    

Pada tanggal 3 Januari 2018 Kementerian Agama telah memasuki usia ke-72 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Selama kurun waktu tersebut banyak pengabdian yang tulus dan ikhlas disumbangkan, banyak aktivitas yang telah dilaksanakan dan banyak perjuangan yang telah dilakukan sebagai bentuk pengabdian yang dinilai sebagai ibadah dihadapan Allah Swt. Dan semua perjuangan itu dilakukan untuk menjaga keutuhan dan memperkokoh Negera Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Hari lahir kementerian yang bermotto Ikhlas Beramal ini diperingati sebagai Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama. Seluruh Aparatur Sipil Negara (disingkat ASN) Kementerian Agama yang bertugas di pusat hingga daerah mulai dari perkotaan hingga pedesaan turut memperingatinya. Berbagai kegiatan digelar mulai dari memberikan bantuan kepada kaum dhuafa, berkunjung ke panti asuhan, olahraga futsal, bola volly, bulu tangkis, kegiatan lomba kesenian, dan jalan sehat kerukunan antar umat beragama yang bertujuan untuk memperat  persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya.

Tema hari amal bakti tahun ini adalah “Tebarkan Kedamaian”. Tema ini dipilih karena pada hakikatnya agama berfungsi menyemai kebaikan dan menebar kedamaian. Walaupun  tema ini cukup singkat, mudah dihafal, namun memiliki makna yang mendalam. Mengapa? Karena tema ini adalah ajakan untuk menebarkan kedamaian kepada siapapun tanpa melihat agama, suku, ras, warna kulit, adat istiadat, budaya. Karena sejatinya setiap Agama yang ada di Nusantara ini sesungguhnya mengajarkan kedamaian.

Ajaran Kedamaian

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian di dunia kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, bangsa, agama atau yang lainnya dengan prinsip kasih sayang sesama. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. "Sayangilah orang di bumi, maka kamu akan disayangi yang di langit". (Hadis ini Shohih, Riwayat At-Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, lihat Shahiihul jaami’ no. 896.

Nabi Muhammad Saw diutus Allah dengan membawa misi Islam, juga untuk rahmat bagi seluruh manusia (Rahmatan lil ‘alamin), berarti Islam diturunkan untuk menciptakan perdamaian di dunia ini. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al Anfal ayat 61, "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Ayat di atas menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran yang cenderung pada kedamaian bukan justru memecah belah dan membuat konflik berkepanjangan. Untuk itu, ajakan mengarah kepada kedamaian ini merupakan bagian agar manusia tunduk kepada aturan Allah Swt., dan bentuk ketaqwaan pada ajaran islam.

Ajaran kedamaian inipun dapat dibuktikan bagaimana Nabi Muhammad Saw., setelah perang tidak menghabisi seluruh musuh-musuhnya dan penduduk yang tidak bersalah. Sebaliknya, Rasulullah Saw., justru membangun dan memberikan kesejahteraan dalam rangka menegakkan keadilan bagi masyarakat, agar tercipta suasana kedamaian  hingga mencapai kesuksesan bersama.

Rasulullah Saw., juga memberikan contoh atau keteladanan hidup damai dan penuh pengertian atau tenggang rasa, toleransi di lingkungan muslim dimana ada pemeluk agama lain selain Islam. Pada waktu Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah, beliau mendeklarasikan "Piagam Madinah" yang isinya jaminan hidup bersama secara damai dengan umat beragama lain (non muslim). Begitu juga pada waktu Rasulullah Saw., menaklukan kota Mekkah, beliau menjamin bahwa setiap orang, termasuk musuh yang ditaklukannya agar tetap hidup aman dan nyaman. Untuk itu tindakan nyata apa yang telah dilakukan Rasulullah Saw., dapat dijadikan contoh dan teladan bagi kita semua dalam berbangsa dan bernegara agar dapat  menebarkan kedamaian kepada sesama manusia.
       
Duta Penebar Kedamaian
 

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia berpesan bahwa perdamaian semakin penting untuk digaungkan agar tidak terjerembab dalam kubangan perseteruan dan jebakan permainan atas nama agama. Ia menegaskan, perdamaian adalah pesan universal dalam setiap ajaran keagamaan. Karenanya, pemuka agama penting menyebarkan khotbah mengenai perdamaian agar masyarakat tidak terjebak perseteruan dan jebakan "permainan" atas nama agama.  Ia mengajak kepada seluruh ASN  Kementerian agama dan semua komponen umat beragama di tanah air agar bersama-sama menjadi Duta Penebar Kedamaian. (Suara.com, 2/01/2018).

Pertanyaannya adalah, Mengapa kita harus menjadi duta penebar kedamaian? Sebab Islam adalah agama yang damai. Islam berasal kata salama yang artinya adalah keselamatan dan kedamaian. Lihatlah aktifitas seorang muslim dalam keseharian berapa kali kita berpapasan dengan sesama muslim sambil mengucapkan salam, atau ketika melaksanakan shalat pada saat tasahud akhir ditutup dengan salam. Berarti dalam keseharian kita telah mengucapkan kata damai puluhan kali. Untuk itu sejatinya sebagai seorang muslim harus menjadi agen dan duta penebar kedamaian kepada setiap manusia. Bukankah Nabi Muhammad Saw, pernah berpesan kepada kita "Hai manusia, Tebarkanlah Perdamaian".

Namun sayang sebagai seorang muslim kadang sikap kita tidak mencerminkan ajaran Islam. Sehingga oranglain terhalang melihat begitu indah dan sejuknya ajaran Islam. Karena prilku dan perangai sebagian orang muslim yang kasar, suka kekerasan, menghina, mencaci dan ujaran kebencian. Keindahan Islam itu tertutupi oleh muslim itu sendiri. untuk kita harus  bangkit menjadi Duta penebar kedamaian agar dapat menampilkan wajah Islam yang sejuk dan cinta penuh kedamaian. Hal ini Ini sejalan dengan yang sering didengungkan oleh Guru Bangsa, tokoh perdamaian dan toleransi KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur mengatakan bahwa "kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah". 

Seorang aktivis kerukunan umat beragama perempuan dari Elijah Institut Peta Jones Pellach menyampaikan testimoninya tentang Gus Dur. "Menyaksikan langkah dan usaha Gus Dur dalam kerukunan umat beragama dan perdamaian dunia, membuat kami semakin memahami bahwa Islam yang sebenarnya adalah Islam yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh Gus Dur, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin; Islam yang mengayomi semua orang yang menjadi berkah dan memberi kasih sayang tanpa pandang bulu kepada siapa pun di dunia" (Miftahul Jannah, Kongkow Bareng Gusdur).       

Dengan demikian hari jadi Kementerian Agama Ke 72 ini sebagai momen untuk bangkit dan bersatu menumbuhkan semangat persaudaraan atas dasar kebangsaan, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya. Sebagai ASN Kementerian Agama yang bertugas diwilayah Negara kesatuan Republik Indonesia tercinta harus terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dengan 5 budaya kerja; Intregitas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggung jawab, keteladanan dan tagline bersih melayani dan semua komponen umat beragama di tanah air agar bersama-sama menjadi Duta Penebar Kedamaian. Marilah kita buktikan bahwa agama sesungguhnya membawa angin kesejukan yang menenteramkan. Dalam kedamaian itulah akan tercipta negeri yang tenteram dan sejahtera.

Menutup tulisan ini sebagai guru dan sahabat-sahabat guru lainnya di manapun berada. Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru oleh anak didik, guru harus menjadi teladan perdamaian, baik dalam materi pelajaran maupun perilaku sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah atau Madrasah, kehidupan keluarga maupun sosial. Kita hidup di Indonesia tercinta,  sudah saatnya kita menjadi duta penebar kedamaian. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalu bukan kita siapa lagi. Semoga bermanfaat .  Wallahu ‘alam. (*)

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas