• header

Pengumuman hasil seleksi PPDB Tahun 2018 dapat dilihat di Harian Gorontalo Post Terbitan 21 Mei 2018. Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


MTs Negeri 1 Kota Gorontalo

NPSN : 60725187

Jl.Poigar Kel.Molosipat U Kec.Sipatana Kota Gorontalo


mtsnkota.gorontalo@gmail.com

TLP : -


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana menurut anda tampilan website MTs Negeri Gorontalo ini?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 199491
Pengunjung : 47737
Hari ini : 24
Hits hari ini : 55
Member Online : 0
IP : 54.81.197.24
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Hari Santri Nasional : Bangkitkan Semangat "Hubbul Wathon"




...

 

Oleh : Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.I

Sejak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015. Saya, sebagai santri yang pernah belajar di pondok pesantren tentunya merasa gembira, bangga dan bersyukur. Mengapa?, karena dengan ditetapkannya sebagai Hari Santri Nasional, seluruh generasi muda terutama para santri, dapat mengenang bagaimana perjuangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama Para Ulama dan ribuan santri secara langsung dalam aksi bela Negara.
   

Menurut KH. Said Aqil Siradj, bahwa pada tanggal 22 Oktober 1945 merupakan tanggal, dimana Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang disebut sebagai Resolusi Jihad. Lahirnya Resolusi Jihad melalui musyawarah ratusan Kiai dari berbagai daerah Jawa-Madura tersebut merespons agresi kedua Belanda. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Para pejuang yang gugur dalam peperangan melawan penjajah pun dianggap mati syahid. Itulah perjuangan para ulama dan santri sebagai bentuk cinta yang mendalam terhadap Tanah Airnya.
      

Olehnya cinta tanah air harus benar-benar kita bangkitkan kembali di Era saat ini. Mengapa? Cobalah amati sejenak yang sering biasa kita lakukan, disaat pelaksanaan upacara bendera kita seakan sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang ngobrol, ada juga yang memainkan Handphone sambil membaca status atau mengirim bersetatus, sehingga hilanglah khitmahnya. Padahal upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai perjuangan Pahlawan yang telah gugur di medan juang. Disaat saudara-saudara berkarya dan inovasi menghasilkan karya produk unggulannya malah kita lebih tertarik dengan Produk impor dari Negara. Bahkan untuk sekedar menjaga gengsi kita lebih suka menggunakan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa Indonesia.
      

Di saat hari kemerdekaan Republik Indonesia diperingati, kita masih enggan memasang bendera Merah Putih, dengan berbagai alasan mulai bendera rusak, bendera hilang,  dan tidak memiliki tiang. Padahal banyak diantara kita yang mampu membeli kendaraan baru, baju baru tetapi mengapa untuk membeli bendera merah putih kita tidak mampu, bahkan ketika perhelatan Piala Eropa atau Piala Dunia berlangsung kita berlomba-lomba memasang bendera Negara lain dengan lebih besar dan lebih bagus dibanding bendera kita. Lalu dimana rasa cinta kita terhadap tanah air ini.
       
Apa Itu Hubbul Waton
 

Hubbul Wathon dalam bahasa Indonesia berarti cinta tanah air. Cinta tanah air adalah merupakan cara berpikir, bersikap, berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepeduliaan, dan penghargaan yang tinggi, terhadap bangsa dan lingkungan. Dalam definisi lain, cinta tanah air adalah munculnya rasa kebanggaan, rasa kecintaan, rasa memiliki, rasa menghargai, rasa menghormati, rasa kesetiaan dan kepatuhan yang dimiliki oleh setiap warga negara terhadap negaranya atau tanah airnya.
      

Pada dasarnya setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim As, ketika beliau berdoa kepada Allah agar negerinya yang beliau tempati diberkahi, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 35 : "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala."
     

Ayat diatas menggambarkan bagaimana cintanya Nabi Ibrahim As terhadap Negerinya sehingga beliau berdoa agar negeri, aman, nyaman, sehingga anak cucunya kelak terhindar dari berhala. Selain Nabi Ibrahim As, Rasullah Saw juga mencintai tempat kelahirannya, sebagaimana ketika beliau diusir dari Mekkah, beliau mengungkapkan :  "Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu" (HR Ibnu Hibban).
     

Hadis di atas menunjukkan bagaimana rasa cinta beliau kepada tanah kelahirannya, walaupun beliau diusir dari tempat beliau dilahirkan, namun beliau tetap mencintainya. Setelah diusir beliau hijrah ke Madinah, di tempat tinggal yang baru inilah, Rasulullah Saw berharap agar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Seperti yang terungkap dalam doa beliau dalam kitab Shahih Bukhari. "Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami daripada Makkah.” (HR al-Bukhari 7/161)
     

Dari hadis di atas, bahwa Rasulluah Saw, mencinta negeri yang beliau tempati. Sebab jika negerinya rusak, maka penduduknya juga akan menderita, tidak akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan.

Hubbul Wathon Minal Iman
Menurut Prof. Dr M. Quraish Shihab bahwa rasa cinta Tanah Air merupakan fitrah manusia yang diberikan sejak manusia diciptakan. Menurutnya, cinta Tanah Air sebagai manifestasi dari iman. Karena Allah telah menyandingkan antar iman dengan rasa cinta Tanah Air. Manusia diciptakan Allah dari tanah, maka tidak heran jika nasionalisme, patriotisme, dan rasa cinta Tanah Air merupakan fitrah, dan naluri yang dimiliki setiap manusia.
      

Jargon Hubbul Wathon Minal Iman  yang berarti cinta Tanah Air sebagian dari Iman harus terus dibangkitkan. Kita harus optimis jika semangat cinta tanah air terus dibangkitkan maka akan terhindar dari konflik. Menurut KH. Said Agil Siraj semangat cinta Tanah Air yang digelorakan ulama Nu akan menjaga bangsa dari perpecahan. Menurut beliau di Indonesia, Nasionalisme yang digelorakan HadrotusSyekh KH. Hasim Asyari, KH. Wahab Hasbullah, bukan nasionalisme sekuler, tapi benar-benar keluar dari hati yang beriman. Sehingga yang muncul adalah nasionalisme relegius-religius nasionalis.
      

Dengan demikian, mari peringatan Hari Santri Tahun ini, kita jaga persatuan dan kesatuan, saling mehormati dan bangkitkan terus semangat Cinta Tanah Air (Hubul Wathon), sebagaimana Nabi Ibrahim As, dan Nabi Muhammad Saw yang mencintai negerinya. Bung Karno, Mohammad Hata, Jendral Sudirman, maupun pahlawan lainnya bahkan ulama yang kita cintai Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, bersama para Ulama NU lainnya KH Wahab Hasbullah, meski memakai sarung, memakai sorban, beliau menggelorakan cinta tanah air dengan lagunya Ya Ahlal Wathon. Untuk itu sudah saatnya kita mencintai nagara Indonesia dengan tulus, karena indonesia adalah tanah tempat tinggal kita, dimana kita dibesarkan dan hidup di sini, maka kita harus berbuat yang terbaik untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Kalu bukan kita yang mencintai negeri ini lalu siapa lagi, kalu bukan sekarang kapan lagi. Semoga bermanfaat. (*)

(Penulis adalah Guru Akidah Akhlak  Pada MAN 2 Kab. Gorontalo, Alumni LP Ma-árif Nu Trenggalek, dan saat ini sebagai Ketua PC Pergunu Kab. Gorontalo Utara).




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas