• header

Mewujudkan Madrasah Hebat Bermartabat

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


MTs Negeri 1 Kota Gorontalo

NPSN : 60725187

Jl.Poigar Kel.Molosipat U Kec.Sipatana Kota Gorontalo


mtsnkota.gorontalo@gmail.com

TLP : -


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana menurut anda tampilan website MTs Negeri Gorontalo ini?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 220346
Pengunjung : 51418
Hari ini : 17
Hits hari ini : 57
Member Online : 0
IP : 54.166.203.17
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Hari Patriotik : Membangun Negeri dengan Akhlak Terpuji




...

 

Oleh : Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.

(Penulis adalah Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih Pada MAN 2 Kab. Gorontalo. Ketua PC Pergunu Kab. Gorontalo Utara. )

"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki  dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa  dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal..." Qs. Al-Hujarat : 13
     

Bagi warga masyarakat Gorontalo tidak akan pernah melupakan peristiwa bersejarah yang terjadi 76 tahun silam. Tepatnya, Jum’at pagi tanggal 23 Januari 1942. pada tanggal itulah pasukan yang dipimpin langsung Nani Wartabone berangkat dari Suwawa menuju Gorontalo. Sepanjang perjalanan, banyak rakyat bersatu dan berjuang bersama. Pada pukul 09.00 pagi seluruh pejabat Belanda di Gorontalo berhasil ditangkap. Kemudian Ia memimpin rakyat menurunkan bendera Belanda dan mengibarkan bendera merah putih yang diiringi lagu Indonesia Raya.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Nani wartabone aktif melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda dan Jepang. Berkat jasa dan perjuangannya untuk bangsa dan Negara, akhirnya Nani Wartabone dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003. Semangat juang  Nani Wartabone harus menjadi contoh teladan bagi generasi saat ini, semangat rela berkorban, dan berjuang untuk Negera Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Nani Wartabone adalah salah satu tokoh terbaik Gorontalo. Ia Lahir pada 30 Januari 1907, dan wafat pada umur 78 tahun tepatnya tanggal 3 Januari 1986. Alhamdulillah, saya beberapa kali dapat menziarahi makamnya di desa Bube, kecamatan Suwawa kabupaten Bonebolango. Mari kita berdo’a, semoga Allah Swt., memberikan tempat yang mulia kepada Almarhum Nani Wartabone, bersama tokoh dan pejuang lainnya yang telah berjuang untuk Negera Kesatuan Republik Indonesia tercinta. Al-Fatihah.

Pada alinea ketiga pembukaan Undang-undang  dasar 1945, “Atas berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa” bermakna bahwa anugerah terbesar bangsa adalah kemerdekaan dan itu merupakan Rahmat Allah Swt. Olehnya sebagai generasi muda kita harus bersyukur atas nikmat kemerdekaan ini dengan cara mewarisi semangat perjuangan untuk membangun negeri ini dengan rela berkorban dan akhlak yang terpuji, yaitu Persatuan dan kerukunan Persatuan dan Kerukunan.

Secara bahasa persatuan diartikan sebagai gabungan, ikatan, kumpulan atau beberapa bagian yang sudah bersatu. Sedangkan rukun berarti baik, damai, tidak bertengkar. Kerukunan berarti sebagai hidup rukun, damai dan tidak bertengkar antara warga masyarakat. Begitu indahnya jika kita masyarakat Gorontalo mampu mempertahankan, menjaga dan melestarikan persatuan dan kerukunan. Sebab sejatinya persatuan dan kerukunan sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, dan bernegara. Karena dengan terciptanya persatuan dan kerukunan dalam suatu negara akan menjadikan rakyat nyaman dan tenteram dalam bekerja, menimba ilmu, melakukan aktifitas dengan baik, melaksanakan ajaran agama tanpa ada halangan, dan dapat melaksanakan pembangunan.

Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membina persatuan dan kerukunan. Sebagaimana Firman Allah Swt, dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujarat ayat 13 yang artinya, "Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal"

Dalam Tafsir Al-Qur’anul karim ayat tersebut menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa), dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemooh, mencaci maki tetapi untuk saling mengenal dan tolong menolong. Allah Swt., tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaan, karena orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang bertaqwa.

Prilaku Persatuan dan Kerukunan
Penerapan perilaku persatuan dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

Pertama, Persatuan dan Kerukunan Intern Umat Beragama. Rasulullah Saw, adalah teladan bagi kita semua. Beliau diutus oleh Allah bukan hanya untuk bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh manusia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Arof ayat 158, Artinya : "Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua".

Dalam perkembanganya, Islam diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, berbeda suku, bahasa, bangsa dan budaya. Perbedaan pengetauan dan pemahaman masing-masing suku dan bangsa, mendorong munculnya beberapa pemahaman misalnya dalam bidang figh terdapat empat madzhab, yaitu ; madzab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Keempat madzhab tersebut masing-masing mempunyai banyak pengikutnya, termasuk bangsa Indonesia. Adanya Perbedaan paham sesungguhnya merupakan dinamika umat Islam, sehingga islam benar-benar menjadi rahmatan lil ’alamin.       

Kedua, Persatuan dan Kerukunan Antar Umat Beragama. Toleransi antar umat beragama telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rosulullah Saw., kepada para shahabat dan seluruh umat-Nya. Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Islam Between War and Peace menyatakan "Religion is not a reason for battle (agama bukan penyebab perang)". Salah satu argumentasinya adalah fakta sejarah menunjukan Nabi Muhammad Saw.,  memiliki mertua yang beragama Yahudi. Nama mertua Nabi itu adalah Huyay bin Akhtab al-Nadhari dan putrinya bernama Shofiyah, yang kemudian dijuluki Umm al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) setelah masuk Islam dan dinikahi Nabi Saw. Sekalipun mertua Nabi tetap setia dengan keyakinanya, Nabi Saw., tidak pernah memeranginya karena alasan beda agama.

Bahkan dalam riwayat lain, terjadi ketika selesai perang badar, pasukan muslim telah berhasil menawan pasukan kafir, banyak para shahabat yang menginginkan tawanan tersebut dibunuh, namun kebijakan Rasulullah Saw., berbeda justru Rasul meminta agar tawanan-tawanan perang itu dibebaskan. Agama Islam membolehkan umatnya untuk berhubungan dengan pemeluk agama lain, bahkan toleransi antar umat beragama sangat dianjurkan oleh Rosulullah Saw.

KH. Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gusdur pernah mengatakan bahwa "Agama dilahirkan untuk kedamaian bukan untuk Kekerasan". Nabi Muhammad Saw., telah memberikan contoh teladan dan kedamaian dalam menyikapi perbedaan agama. Beliau adalah guru terbaik yang mengajarkan toleransi beragama. Beliau  tidak hanya berteori, melainkan telah mempraktekkannya lebih dahulu. Fakta sejarah telah membuktikan, banyak dikalangan sahabat masuk Islam bukan karena terpaksa, terancam atau menggunakan kekerasan, tetapi lebih kepada kesadaran dan kekaguman menyaksikan langung kesantunan, kelembutan dan keteladanan ada pada diri Nabi Muhammad Saw.

Ketiga, Persatuan dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah adalah agar dapat diupayakan keserasian dan keselarasan di antara para pemeluk atau pejabat agama dengan para pejabat pemerintah dengan saling memahami dan  menghargai tugas masing-masing dalam rangka  membangun masyarakat dan bangsa Indonesia yang  beragama. Kerukunan hidup umat beragama di Indonesia dipolakan dalam Trilogi Kerukunan (Depag Ri,1997:8-10).

Untuk itu kerukunan antarumat beragama dengan pemerintah dapat tumbuh dengan baik jika dapat saling mengisi. Pemerintah menyediakan sarana, ulama yang mengelola artinya pemerintah membangun fisik, maka peran ulama adalah membangun mental spriritualnya.

Dengan demikian marilah peringatan Hari Patriotik, kita jadikan semangat berjuang dan rela berkurban untuk tetap menjaga dan merawat persatuan dan kerukunan. Bangkitkan kembali semangat juang Nani Wartabone untuk generasi saat ini, dalam membangun negeri, karena semangat persatuan bernegara merupakan pengikat suatu negara untuk dapat berdiri tegak selama-lamanya. Hindarilah berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, mencaci maki, menggunjing, dan hindari klaim merasa paling benar agar persatuan dan kerukunan di negeri ini tetap terjaga. Damailah Indonesia-ku, Wallahu A’lam Bishawab.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas